Daftar Blog Saya

Loading...

Sabtu, 16 Januari 2010

PERAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN INTRAPERSONAL DALAM KEPUTUSAN ADOPSI INOVASI TEKNOLOGI

oleh:
Yohanes G. Bulu


Pendahuluan

Proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih dan antara kelompok, oragnisasi dan komunitas, tidak hanya melibatkan aspek-aspek antropologis dan sosiologis melainkan juga melibatkan aspek psikologis. Komunikasi antar individu maupun antar individu dengan kelompok selalu terjadi penyampaian dan penerimaan pesan. Pesan dari individu menjadi stimulus yang menimbulkan respons pada individu lain dan kelompok sebagai penerima pesan. Pesan yang diterima individu maupun kelompok selalu dibandingkan dengan konsep diri (Self-concept) dan pengetahuan diri (self-knowledge) mereka, hal ini menyebabkan pesan yang diterima itu selalu melibatkan proses psikologis. Rakhmat (2005), menjelaskan bahwa ketika pesan sampai pada diri komunikator, psikologi melihat ke dalam proses penerimaan pesan, menganalisa faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhinya, dan menjelaskan berbagai corak komunikan ketika sendirian atau dalam kelompok.
Pembangunan pertanian tidak terlepas dari penyebaran inovasi baru yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan. Penyampaian inovasi baru selalu melibatkan proses-proses komunikasi dan pendekatan penyuluhan. Pendekatan penyuluhan inovasi meliputi subsistem penyampaian inovasi (delivery subsystem) dan subsistem penerimaan (receiving subsystem). Kedua subsistem tersebut merupakan lalulintas yang menyebabkan proses adopsi dan difusi inovasi. Penyampaian pesan inovasi baru melalui berbagai pendekatan penyuluhan dan komunikasi jarang memperhatikan kondisi psikologis penerima, sehingga menyebabkan adopsi teknologi menjadi relatif lambat. Selama revolusi hijau penerapan inovasi teknologi baru cenderung bersifat koersif tanpa mempertimbangkan aspek-aspek sosiologis, antropologis dan psikologis masyarakat sebagai pelaku. Sebaliknya ketika seorang individu atau kelompok mengetahui suatu inovasi baru dapat meningkatkan produksi usahataninya cenderung terjadi adopsi inovasi yang berlebihan. Sebagai contoh penggunaan pupuk urea yang berlebihan pada tanaman padi sawah berdampak negatif terhadap produksi yaitu terjadinya penurunan produksi.
Dalam penyebaran inovasi teknologi melalui pendekatan komunikasi diperlukan perpaduan antara aspek antropogis, sosiologis dan psikologis. Ke tiga aspek ini mempunyai hubungan erat antara satu sama lain dalam merubah perilaku manusia. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai agent of technology, sebagai salah satu komponen pengubah perilaku petani, dan sebagai pembawa pesan teknologi ke petani belum memahami secara baik tentang aspek-aspek antropologi, sosiologi dan psikologi. Pesan-pesan inovasi dari PPL baik melalui komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok maupun komunikasi massa belum mampu meyakinkan petani untuk mengadopsi teknologi secara cepat. Hal ini menunjukkan adanya persoalan-persoalan psikologi dari penerima pesan inovasi (petani), seperti sikap kehati-hatian dan persepsi yang salah terhadap teknologi tersebut.
Selain faktor psikologis yang menghambat percepatan adopsi teknologi, juga disebabkan oleh faktor lingkungan dan kebijakan. Pada era reformasi dan pelaksanaan otonomi daerah menjadikan segalanya berubah, baik aspek politik, ekonomi, sistem komunikasi dan pembangunan sektoral. Pembangunan di sektor pertanian khususnya penyebaran dan pemanfaatan inovasi pertanian relatif terlambat. Kecenderungan melambatnya kecepatan adopsi dan pemanfaatan teknologi disebabkan oleh: (1) perencanaan pengembangan teknologi tidak sesuai dengan pengembangan wilayah dan kebutuhan masyarakat lokal; (2) sistem penyebaran inovasi teknologi dan terbatasnya akses petani pada sumber inovasi teknologi dan media komunikasi inovasi; dan (3) penyaluran informasi teknologi melalui social capital terutama melalui jaringan-jaringan relatif rendah.
Selama otonomi daerah penyelenggaraan penyuluhan pertanian tidak lagi berjalan sesuai yang diharapkan karena penyuluh lebih banyak mengerjakan administrasi struktural daripada melakukan tugas fungsionalnya sebagai penyuluh. Kondisi ini menyebabkan mereka menjadi skeptis dan acuh tak acuh terhadap program dan kegiatan pembangunan pertanian (Kasiyani, 2007). Dampaknya adalah bahwa lembaga penyuluhan tidak lagi dikelola secara baik dan petani dibiarkan untuk mencari sendiri informasi inovasi teknologi. Para petani kehilangan mitra kerja yang telah terbina selama ini. Peran media massa (cetak dan elektronik) dalam transfer informasi inovasi teknologi pertanian selama otonomi daerah tidak lebih baik dari sebelumnya.
Tantangan psikologis yang dihadapi petani tidak hanya dalam hal keterbatasan informasi inovasi dan keputusan adopsi teknologi, juga disebabkan oleh semakin degrasasi dan terbatasnya sumberdaya lahan menyebabkan komunikasi dalam penyampaian informasi inovasi tidak efektif karena adanya sikap selektif individu petani. Tulisan ini mencoba memberikan gambaran mengenai peran komunikasi interpersonal terhadap keputusan dan kecepatan adopsi teknologi, peran komunikasi intrapersonal dalam keputusan adopsi teknologi, persepsi petani terhadap teknologi, dan peran sumber informasi teknologi dalam upaya melakukan transfer teknologi melalui media komunikasi yang ada dengan pendekatan psikologi komunikasi.

Peran Komunikasi Interpersonal Terhadap Kecepatan Adopsi Inovasi

Komunikasi interpersonal adalah merupakan pesan-pesan interpersonal. Batasan pesan interpersonal adalah pesan-pesan komunikasi yang terdiri atas pesan komunikasi verbal dan non verbal (Effendy, 2005). Komunikasi nonverbal meliputi ekspresi wajah, posture, gesture (gerak tubuh sebagai isyarat), nada suara, sentuhan, penggunaan alat peraga (gambar, peta, foto, prototype), penggunaan jeda waktu secara sistematis. Sedangkan komunikasi verbal meliputi tiga kelompok disiplin, yakni sintaksis, semantik, dan pragmatis. Sintaksis berkaitan dengan hubungan antar kata, sedangkan semantik berhubungan dengan tata kalimat yang sudah melibatkan objek penjelasannya. Sementara itu pragmatik berkaitan dengan hubungan kata-kata dan perilaku. Sebagai komunikator, memungkinkan kita mengelola pesan-pesan melalui komunikasi verbal dan nonverbal guna menciptakan makna dalam konteks tertentu. Dalam proses adopsi dan difusi inovasi teknologi kepada pengguna (petani) selalu memadukan pesan komunikasi verbal dan non verbal. Pesan komunikasi non verbal berupa gambar, petan, foto dan prototype adalah untuk melengkapi pesan komunikasi verbal sebagai upaya menggerakkan ransangan stimulus dan persuasi.
Persuasi dalam konteks komunikasi interpersonal, maksudnya adalah ketika seseorang mencoba membujuk orang lain supaya berubah, baik dalam kepercayaannya, sikapnya, atau perilakunya. Sebagai contoh, ketika kita membujuk dan memberikan keyakinan pada petani agar mereka menerapkan teknologi anjuran. Sedangkan persuasi dalam konteks komunikasi massa, maksudnya adalah ketika seseorang atau komunikator berusaha membujuk sekelompok petani agar mereka bisa berubah, baik dalam kepercayaannya, sikapnya, maupun perilakunya terhadap teknologi anjuran. Namun sangat sulit untuk dengan cepat merubah perilaku karena pesan yang diterima masih melalui proses psikologis individu petani dalam mengartikan isi pesan.
Penyebaran inovasi teknologi pertanian dapat dilakukan melalui saluran komunikasi interpersonal, kelompok, dan media massa. Saluran komunikasi interpersonal dan kelompok memiliki ciri berbeda dengan jangkauan yang terbatas, namun mampu dalam pembentukan dan perubahan sikap serta perilaku, sehingga saluran komunikasi interpersonal lebih penting pada tahap persuasi. Saluran media massa dipercaya memiliki ciri yang sangat efektif dalam menciptakan pengetahuan dan relatif dapat menjangkau sasaran yang luas dalam waktu yang singkat. Saluran ini memungkinkan dapat berperanan lebih penting pada tahap pengenalan inovasi ke masyarakat petani. Kasus di Indonesia, bahwa dalam penyebaran inovasi pertanian jarang menggunakan saluran komunikasi massa dengan menggunakan media massa, selain itu bahwa sebagian besar petani Indonesia tidak mempunyai kemampuan dalam mengakses informasi inovasi melalui media massa. Kondisi ini menyebabkan perluasan difusi inovasi teknologi relatif lambat.
Prinsip komunikasi inovasi antara manusia yang penting adalah bahwa penyampaian inovasi-inovasi baru lebih sering terjadi antar sumber dan penerima yang sama, sepadan, dan homofilius (kesamaan kepercayaan, nilai-nilai, pendidikan, status sosial) (Hanafi, 1987). Pada kondisi saat ini komunikasi inovasi yang sering terjadi tidak lagi didasarkan pada kesamaan perangkat-perangkat tertentu antar sumber dengan penerima melainkan cenderung didasarkan pada kebutuhan akan inovasi tersebut. Jika komunikan mengetahui seseorang individu memiliki sejumlah pengetahuan tentang inovasi tertentu maka mereka dapat dijadikan sumber informasi inovasi. Sebagai contoh komunikasi inovasi terjadi antara petani dengan petani yang berhasil dalam usahataninya, petani yang lebih paham terhadap teknologi, ketua kelompok tani, dan kontak tani. Memang ada kecenderungan jika sumber dan penerima pesan homofili maka komunikasi akan lebih efektif berdasarkan ciri-ciri personal sebagai indikator pendukung. Akan tetapi dalam hal kualitas informasi inovasi bahwa individu petani cenderung mencari sumber-sumber informasi inovasi yang memiliki kredibilitas yang dapat dipercaya. Kencenderungan ini mungkin dipengaruhi oleh meningkatnya pengetahuan inovasi individu dan untuk menghindari terjadinya konflik batin dalam pengambilan keputusan terhadap pesan inovasi yang diterima.
Berkaitan dengan kebutuhan akan inovasi tertentu individu petani juga melakukan komunikasi atau kontak dengan pedagang input, pedagang output, pengusaha, PPL, dan guru sekolah yang ada di desanya. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi inovasi yang dibutuhkan. Perolehan inovasi melalui komunikasi interpersonal juga sering terjadi melalui pertemuan-pertemuan kelompok tani, kelompok wanita tani, kelompok simpan pinjam, kelompok arisan, kelompok keagamaan, kelompok adat, kegiatan penyuluhan, pertemuan RT dan RW di mana Gonzales dalam Jahi (1988) menyebutnya sebagai media komunikasi tradisional. Terlepas dari penggolongan media ini sebagai media tradisonal namun yang lebih penting yang diharapkan individu adalah kecepatan memperoleh informasi inovasi.
Dalam konteks penyampaian dan penerimaan pesan inovasi bahwa individu petani selalu menilai pesan-pesan yang mereka terima berdasarkan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian setiap pesan yang diterima atau ditolak itu didasarkan atas peta kognitif oleh individu sendiri terhadap pesan tersebut. Jika suatu informasi inovasi yang diterima mempunyai kecocokan dan sesuai kebutuhan serta tujuan yang ingin dicapai individu maka pesan tersebut akan diterima untuk dimanipulasi atau dimodifikasi lebih lanjut dalam bentuk uji coba dan penerapan. Berkaitan dengan keputusan inovasi bahwa adopsi inovasi adalah menyangkut proses pengambilan keputusan, di mana dalam proses ini banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya faktor psikologis. Dalam penyuluhan pertanian, banyak kenyataan bahwa petani biasanya tidak begitu saja menerima ide-ide baru, tetapi penerimaan melalui tahapan proses, sehingga memerlukan waktu yang relatif lama untuk menerima ide-de. Untuk mempercepat proses adopsi inovasi diperlukan peningkatan komunikasi inovosi yang lebih efektif dengan menggunakan berbagai pendekatan.
Upaya-upaya individu petani untuk memperoleh informasi inovasi melalui saluran komunikasi interpersonal selain untuk meningkatkan pengetahuan juga karena kebutuhan. Komunikasi melalui saluran interpersonal memiliki peranan yang sangat besar terhadap kecepatan adopsi inovasi karena dapat memperoleh umpan balik lebih cepat dibandingkan dengan saluran melalui media massa. Akan tetapi jangkauan penerima relatif terbatas, sehingga perlu memikirkan strategi komunikasi interpersonal dengan membangun jaringan-jaringan komunikasi interpersonal melalui pendekatan kelompok.

Peran Komunikasi Intrapersonal dalam Keputusan Adopsi

Komunikasi intrapersonal adalah proses komunikasi yang terjadi dalam diri manusia dengan pengolahan informasi meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir (Rahkmat, 2005). Pengolahan informasi adalah melalui stimulus sampai pada menghasilkan respon berupa tindakan. Proses komunikasi selalu berasal dari kreativitas berpikir dan permenungan atas konsep diri individu.
Untuk memahami individu dalam mengadopsi teknologi di mana melalui suatu proses mental, maka dapat menggunakan pendekatan teori kognitif. Pemaknaan merupakan konsep sentral dalam teori kognitif dan memainkan peranan dalam penjelasan teoretis dari hampir semua proses psikologis yang kompleks. Psikologi kognitif adalah satu pendekatan kajian yang bertujuan memahami bagaimana manusia menyusun dan melaksanakan aktivitas mental dengan melibatkan proses perolehan, penyusunan, perwakilan, penyimpanan, pengambilan kembali dan penggunaan pengetahuan yang membolehkan menusia memahami dan menyelesaikan masalah demi menyesuaikan diri dengan tuntutan alam sekitar yang berubah-ubah dan dirancang untuk menghadapi masa depan (Walgito, 2006).
Teori kognitif merupakan salah satu teori perilaku. Teori ini menjelaskan bahwa individu yang bersangkutan memilih anternatif perilaku yang membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi yang bersangkutan. Dengan kemampuan memilih suatu teknologi yang bermanfaat bagi seorang petani menggunakan kekuatan berpikir sebagai bahan pertimbangannya. Kekuatan-kekuatan berpikir petani dalam memilih teknologi sebagai bentuk berperilakunya adalah syarat dengan pertimbangan-pertimbangan selektif. Krech dan Crutchfield dalam Rahkmat (2005) merumuskan dalil persepsi bersifat selektif secara fungsional yang berarti bahwa obyek-obyek yang mendapat tekanan dalam persepsi individu biasanya obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Dalam konteks hubungan antara persepsi dan komunikasi bahwa persepsi selektif dipengaruhi oleh keinginan, kebutuhan, sikap dan faktor-faktor psikologis lainnya. Mar’at (1984) berpendapat bahwa persepsi merupakan proses pengamatan seseorang yang berasal dari komponen kognisi. Persepsi dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuannya. Jika obyek psikologi adalah ide-ide baru atau teknologi, maka faktor pengalaman, proses belajar atau sosialisasi memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat. Pengetahuan dan pengelaman memberikan arti terhadap obyek psikologi.
Petani dalam memilih teknologi atau unsur-unsurnya tidak lepas dari interaksi terhadap lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Oleh karenanya petani dalam memilih teknologi yang bermanfaat untuk diterapkan adalah melalui proses persepsi. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan. Penginderaan adalah merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat penerima yaitu alat indera (Walgito, 2006). Menurut Rahkmat (2005), persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi (proses menangkap stimuli) sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru.

Bagi petani bahwa obyek penginderaan adalah teknologi (Gambar 1), melalui stimuli akan menimbulkan sensasi untuk mempersepsi teknologi tersebut. Persepsi akan mengubah sensasi menjadi informasi. Informasi tersebut akan disimpan dalam memori dan dapat dipanggil kembali. Informasi yang tersimpan dalam memori akan diolah dan dimanipulasi untuk memmenuhi kebutuhan atau memberikan respons dalam bentuk tindakan adalah melalui proses berpikir. Keputusan untuk menerapkan teknologi merupakan bentuk akhir proses berpikir setelah individu meyakini teknologi yang bersangkutan memberikan manfaat bagi perkembangan dirinya.
Menurut Desiderato dalam Rahkmat (2005) bahwa persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi dapat memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi indrawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori.

Persepsi Petani Terhadap Inovasi Teknologi

Inovasi adalah segala sesuatu ide, cara-cara atau pun obyek yang dipersepsikan oleh seorang sebagai sesuatu yang baru. Valera et al., (1987) menyatakan bahwa inovasi merupakan segala perubahan yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat yang mengalaminya. Sebagai contoh teknologi TABELA (Tanam Benih Langsung) dan sistem tanam legowo pada padi sawah merupakan hal yang baru bagi petani yang belum pernah melakukannya.
Seseorang menganggap baru, tetapi belum tentu ide yang sama itu baru bagi orang lain. Mardikanto (1993) mengemukakan bahwa inovasi adalah suatu ide, perilaku, produk, informasi, dan pratek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang mendorong terjadi perubahan-perubahan disegala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu/warga masyarakat yang bersangkutan.
Individu petani dalam memahami suatu inovasi melalui proses persepsi. Persepsi adalah stimulus yang mengenai individu itu kemudian diorganisasikan dan diinterpretasikannya sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya (Azwar, 2000). Ketika individu petani mendengar atau melihat suatu inovasi teknologi, maka muncul stimulus yang diterima alat inderanya, kemudian melalui proses persepsi suatu inovasi teknologi baru yang ditangkap oleh indera sebagai sesuatu yang berarti dan bermanfaat baginya. Melalui suatu interpretasi dan pemaknaan dari suatu teknologi maka muncul keyakinan dan kepercayaan terhadap inovasi teknologi tersebut. Akan tetapi individu petani masih memerlukan pembuktian terhadap kebenaran inovasi tersebut melalui uji coba atau melihat kepada sesama petani yang telah mencobanya.
Persepsi petani terhadap suatu inovasi teknologi baru (misalnya teknologi budidaya jagung Hibrida) adalah merupakan proses pengorganisasian dan interpretasi terhadap stimulus yang diterima oleh individu petani, sehingga inovasi teknologi tersebut dapat diyakini sebagai sesuatu yang berarti dan bermanfaat serta merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu sebelum mengambil keputusan untuk berperilaku. Bentuk keputusan berpelilaku adalah merupakan tindakan individu untuk menerapkan inovasi teknologi yang telah diyakini dan dibuktikan. Dalam menerapkan inovasi tersebut maka individu petani harus mempunyai keyakinan diri berhasil sebagai upaya mengurangi tekanan psikologis.
Persepsi petani terhadap sesuatu inovasi teknologi baru dapat dipengaruhi oleh faktor internal (dari dalam diri individu) dan faktor eksternal (atau dari stimulus itu sendiri dan lingkungan). Suatu inovasi teknologi baru yang dipersepsi erat kaitannya terhadap kondisi lingkungan (agro-ekosistem) dan tingkat kesulitan untuk menerapkan teknologi tersebut. Penilaian terhadap tingkat kesulitan inovasi teknologi itu merupakan faktor-faktor internal individu dalam mempersepsikan kemampuan diri sendiri untuk melakukan tindakan atau penerapan sebagai pola perilakunya.
Secara psikologis persepsi individu petani terhadap suatu inovasi teknologi sangat dipengaruhi oleh kemampuan pemberian makna atau arti dari simbol-simbol teknologi itu, pengalaman individu, perasaan, keyakinan, pengetahuan tentang inovasi, kemampuan berfikir, sumber referensi dan motivasi untuk belajar. Faktor-faktor tersebut akan berpengaruh pada seorang individu petani dalam mengadakan atau melakukan persepsi terhadap inovasi teknologi. Belajar adalah memperoleh dan memperbaiki kemampuan untuk melaksanakan suatu pola sikap melalui pengalaman dan praktek (Van den Ban dan Hawkins, 2000).
Antara pengetahuan, sikap, kepribadian dan perilaku merupakan faktor yang saling terkait yang mengarahkan individu dalam melakukan suatu usaha yang bermanfaat bagi kehidupan dan masa depannya. Gejala-gejala perubahan petani dapat diamati dari ke empat domain tersebut (Tabel 1). Menurut Puspadi (2002), Perubahan-perubahan petani seperti dalam Tabel 1, menyebabkan perubahan kebutuhan petani. Kebutuhan petani saat ini adalah tingkat pendapatan yang layak dan ketersediaan uang segar sebagai instrumen untuk mengaktualisasikan dirinya, mengembangkan dirinya dan mempertahankan dirinya.

Petani banyak belajar dari pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain tentang suatu inovasi teknologi dengan mencoba serangkain tindakan yang beragam. Tingkat tindakan yang dilakukan petani tergantung pada tingkat manfaat dan keuntungan yang akan diterima. Seorang petani dengan pendidikan yang rendah seringkali bersifat apatis terhadap inovasi sebagai akibat kegagalan yang dialaminya pada masa lampau, karena kurangnya pengetahuan tentang inovasi. Sifat-sifat apatis tersebut banyak dialami oleh sebagian besar petani lahan kering akibat kegagalan usahatani yang dialaminya yang disebabkan oleh faktor kondisi iklim yang tidak menentu.
Suatu inovasi teknologi yang diterima petani selalu menilai perilaku diri sendiri akan kemampuan untuk menerapkan teknologi itu dengan baik. Jika seorang petani dengan tingkat penilaian diri atau pengendalian perilaku yang tinggi gagal mencapai hasil yang diinginkan, maka ia akan mencoba lagi untuk menemukan yang lebih baik. Sebaliknya jika seorang petani dengan tingkat penilaian perilaku dirinya rendah, maka cepat berhenti berusaha terutama pada pekerjaan-pekerjaan tertentu atau inovasi-inovasi yang spesifik (Van den Ban dan Hawkins, 2000).

Peran Sumber Informasi Sebagai Media Komunikasi Teknologi

Proses adopsi inovasi merupakan proses kejiwaan/mental yang terjadi pada diri petani pada saat menghadapi suatu inovasi, dimana terjadi melalui tahapan proses penerapan suatu ide baru sejak diketahui atau didengar sampai diterapkannya ide baru tersebut. Pada proses adopsi akan terjadi perubahan-perubahan dalam perilaku sasaran umumnya akan menentukan suatu jarak waktu tertentu. Cepat lambatnya proses adopsi akan tergantung dari sifat dinamika sasaran dan informasi inovasi.
Rogers (1983) adopsi adalah proses mental, dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak ide baru dan menegaskan lebih lanjut tentang penerimaan dan penolakan ide baru tersebut. Adopsi juga dapat didefenisikan sebagai proses mental seseorang dari mendengar, mengetahui inovasi sampai akhirnya mengadopsi. Adopsi adalah suatu proses dimulai dan keluarnya ide-ide dari satu pihak, disampaikan kepada pihak kedua, sampai ide tersebut diterima oleh masyarakat sebagai pihak kedua. Selanjutnya menurut Mardikanto (1993) adopsi dalam penyuluhan pertanian dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan, sikap, maupun keterampilan pada diri seseorang setelah menerima “inovasi” yang disampaikan penyuluh kepada sasarannya. Penerimaan disini mengandung arti tidak sekedar “tahu” tetapi dengan benar-benar dapat dilaksanakan atau diterapkan dengan benar serta menghayatinya. Penerimaan inovasi tersebut, biasanya dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain sebagai cerminan dari adanya perubahan sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
Pengklasifikasian kelompok pengadopsi berikut persentasenya dalam Gambar 1 menunjukkan Simpangan baku (standar deviasi) dari rata-rata dijadikan ukuran atau garis pembatas kelompok inovator, pengadopsi awal, mayoritas awal, mayoritas lambat dan kelompok lamban. Kategorisasi tersebut memberikan gambaran keragaman sikap dan perilaku individu petani dalam proses adopsi inovasi teknologi. Keragaman perilaku tersebut juga dapat dipahami dari penggunaan media komunikasi, kualitas informasi yang diterima, perubahan pengetahuan, sikap dan motivasi.
Kategorisasi pengadopsi tersebut (Gambar 2) juga mempunyai keragaman penggunaan media komunikasi dalam memperoleh informasi inovasi teknologi. Pada kelompok inovator dan pengadopsi awal lebih dominan menggunakan komunikasi massa dalam memperoleh informasi inovasi, sedangkan pada kelompok mayoritas awal, mayoritas lambat dan kelompok lamban lebih dominan menggunakan komunikasi interpersonal.

Sumber informasi yang digunakan dalam setiap tahap proses adopsi yang menunjukkan urutan peringkat dapat dilihat pada Tabel 2 dimana peranan media masa dan komunikasi sosial dalam proses adopsi teknologi. Komunikasi sosial hampir terdapat pada semua tahapan proses adopsi. Sumber-sumber informasi pada setiap tahapan proses adopsi merupakan media komunikasi teknologi yang dapat mendorong terjadinya percepatan adopsi teknologi.
Dalam tahap tahu media massa seperti radio, televisi, surat kabar dan buletin paling banyak digunakan. Peringkat berikutnya adalah teman dan tetangga, terutama petani sejawat, menyusul penyuluh pertanian dan pedagang.
Dalam tahap minat memerlukan informasi yang rinci mengenai inovasi. Media masa atau petani lain merupakan sumber informasi yang paling banyak disebut, selanjutnya penyuluh pertanian dan pedagang.
Dalam tahap evaluasi petani harus menilai manfaat inovasi maupun kecocokannya dengan keadaan setempat. Patani sejawat yang berpengalaman merupakan sumber informasi peringkat pertama. Selanjutnya penyuluh pertanian, pedagang dan media massa.
Dalam tahap mencoba petani memerlukan informasi mengenai penggunaan inovasi. Teman dan tetangga merupakan sumber informasi peringkat pertama, selanjutnya penyuluh pertanian, pedagang dan media massa.
Dalam tahap adopsi pengalaman pribadi dan petani sejawat merupakan faktor yang paling penting dalam penggunaan inovasi yang berkesinambungan. Penyuluh pertanian dan media massa dianggap penting manakala memperkuat keputusan yang diambil atau memberikan informasi yang memperlancar keberhasilan.
Petani yang berhasil dalam usahataninya mungkin dapat mempengaruhi orang lain melalui apresiasi keberhasilannya dalam penerapan teknologi karena didukung oleh kemampuan imajinatif, kreatifitas, pengalaman, pengetahuan dan keterampilan. Biasanya golongan petani ini menjadi sumber informasi bagi petani-petani lain, bahkan sering dijadikan informan kunci bagi peneliti, penyuluh dan pengambil kebijakan untuk menyemapikan pesan-pesan pembangunan. Petani dengan kredibilitas tinggi akan menjadi sumber informasi inovasi karena mempunyai respek yang tinggi, penilaian dan pemahaman yang lebih baik dan integritas personal yang tinggi. Dengan demikian seorang petani yang berhasil dalam usahataninya berpeluang menjadi pemimpin adopsi inovasi.
Berkaitan dengan kepemimpinan adopsi inovasi, Muhadjir (1984) dari hasil penelitiannya menemukan bahwa kepemimpinan adopsi inovasi di pedesaan memiliki berbagai determinan atau memiliki varians determinan, yaitu: partisipasi, pemanfaatan media komunikasi, empati, pandangan kosmopolit, integrasi sosial, motivasi untuk maju, asprirasi, keberanian mengambil resiko, kreativitas, tanggap terhadap inovasi di bidang pertanian, dibidang kesehatan, dibidang kehidupan keluarga, dan dibidang pengelolaan uang.
Fungsi media komunikasi dalam proses pemindahan teknologi, yaitu; media massa, berfungsi deskriptif dan menghasilkan pengaruh yang ampuh jika tujuan yang hendak dicapai ialah masyarakat dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari hanya beberapa orang yang sadar menjadi banyak orang yang sadar. Sebalik media perorangan (face to face) berfungsi perspektif dari tidak setuju menjadi setuju, dari tidak senang menjadi senang, dan terutama dari tidak melakukan menjadi melakukan. Media massa lebih banyak pengaruhnya dalam aspek kognitif, sedangkan media perorangan (interpersonal) lebih banyak menunjukkan keampuhannya dalam aspek perubahan perilaku (behavioral).
Berkaitan dengan penyebaran informasi inovasi pertanian maka diperlukan suatu strategi komunikasi yang lebih efektif dan dan mampu menjangkau sekelompok masyarakat yang lebih luas. Media perorangan sangat tidak mungkin untuk menjangkau audiens yang lebih banyak sehingga strategi yang mungkin digunakan adalah dengan membangun jaringan-jaringan kelompok komunikasi wilayah desa dan antara wilayah. Strategi ini diperlukan dukungan pihak luar dengan memperbanyak dan memperluas sumber informasi, pembentukan dan penguatan lembaga informasi pedesaan, penyediaan informasi inovasi dan peningkatan kualitas informasi sesuai kebutuhan masyarakat. Model jaringan komunikasi melalui kelompok ini memerlukan peran segmen subsistem pengadaan inovasi (generating subsystem) dan sumber informasi yang sangat besar dalam penyampaian pesan yang didukung oleh sebuah kelembagan informasi teknologi pedesaan yang mewadai jaringan komunikasi antar kelompok.

PENUTUP

Media komunikasi interpersonal dan intrapersonal mempunyai peranan dominan dalam pengambilan keputusan untuk mengadopsi suatu inovasi. Komunikasi interpersonal merupakan salah satu media komunikasi yang paling dominan digunakan dalam penyampaian pesan informasi inovasi pertanian. Komunikasi intrapersonal lebih dominan bekerja pada aspek psikologis individu yang mempengaruhi keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi. Suatu inovasi akan diterima seseorang jika stimulus yang diberikan menyentu perasaan yang bersangkutan.